Dukung Swasembada Pangan Kepri, Batam Tancap Gas Kembangkan Padi Gogo 2026
BATAM – Program swasembada pangan terus digencarkan secara berkelanjutan di seluruh Indonesia, termasuk di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Tidak hanya terfokus pada kabupaten yang memiliki lahan sawah luas, pengembangan padi lahan kering atau padi gogo kini mulai menjadi perhatian di berbagai wilayah, termasuk Kota Batam.
Selama ini, Batam dikenal sebagai kota industri. Pada bidang pertanian, Batam memiliki komoditas unggulan di sektor hortikultura. Tingginya permintaan masyarakat dan sektor pariwisata membuat hasil pertanian hortikultura Batam memiliki pasar yang kuat. Namun, semangat untuk berkontribusi lebih dalam program swasembada pangan mendorong petani setempat mulai melirik pengembangan padi lahan kering.
Pada tahun 2025, Batam telah ambil bagian dalam pengembangan jagung pipilan melalui beberapa kelompok tani (Poktan). Memasuki tahun 2026, beberapa kelompok tani tersebut berencana memperluas kontribusi dengan mengembangkan padi lahan kering, mengikuti jejak enam kabupaten/kota lain di Kepri yang lebih dahulu memulai.
Langkah ini semakin konkret saat Kapoksi Penerapan dan Penilaian Kesesuaian Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Kepulauan Riau (BRMP Kepri) sekaligus penanggung jawab program swasembada pangan Kota Batam, Firsta Anugerah Sariri, bersama Katimker Penyelenggaraan Penyuluhan Wilayah Kota Batam dan para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) menghadiri pertemuan kelompok pada Senin (16/2/2026). Pertemuan yang digelar di wilayah Kibing, Tembesi Bengkel, Kecamatan Batu Aji tersebut membahas sosialisasi pengembangan padi lahan kering kepada anggota Poktan Langgeng Jaya.
Inisiatif ini bermula dari respon salah satu anggota Poktan, Agus, yang ingin menyumbangkan luas tambah tanam (LTT) padi dari Kota Batam. Respon tersebut mendapat sambutan positif dari Katimker Eko Pujiyono, yang kemudian menggandeng tim dari BRMP Kepri untuk memberikan pendampingan dan sosialisasi teknis kepada petani.
Rencananya, pengembangan padi lahan kering akan dilakukan pada Musim Tanam (MT) II, dengan penyesuaian terhadap kondisi cuaca. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat wilayah Kepri dalam dua bulan terakhir belum diguyur hujan, sehingga kebutuhan air saat masa pertumbuhan tanaman harus diperhitungkan secara cermat.
Firsta mewakili BRMP Kepri menyatakan dukungan penuh terhadap langkah tersebut. Selain mendiseminasikan inovasi teknologi berupa benih varietas unggul baru, tim swasembada pangan Kota Batam juga akan memberikan pendampingan penerapan standar budidaya sesuai SNI 8969:2021 tentang IndoGAP (Cara Budidaya aman-aman Pangan yang Baik). Pendampingan ini dinilai penting karena budidaya padi gogo masih tergolong baru bagi sebagian petani di Batam.
Ke depan, kolaborasi antara BRMP Kepri, penyuluh pertanian wilayah Kota Batam, dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam diharapkan semakin solid. Pengembangan padi lahan kering di Batam pun ditargetkan meluas, sejajar dengan daerah lain di Kepulauan Riau, sebagai kontribusi nyata menuju swasembada pangan yang berkelanjutan.